Ads 468x60px

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini tlah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu

bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

kuatkanlah ikatannya
tegakkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya

terangilah dengan cahyaMu
yang tiada pernah padam
ya Robbi bimbinglah kami

rapatkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakkal padaMu

hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Rabu, 02 April 2014

Mutiara Peradaban

Saat awal kita berjumpa,
binar yang tampak pada mata kalian begitu indah..
Awal kita berjumpa, aku sadar bahwa skenario-Nya tengah berjalan..
Ia mulai memautkan hati-hati kita, perlahan..
Hingga kini, kurasa perjalanan kita baru saja dimulai,
memperbaiki diri, bersama berjuang..

Kemudian Ia simplkan hati ini, dengan ikatan-Nya yang kokoh..
bak pohon yang akarnya mengakar begitu dalam,
dan batang pohonnya menjulang tinggi
daun-daunnya lebat meneduhkan,
dan buahnya begitu manis,
sangat sangat manis..
ya, buah itu berasa dari pohon iman

Rabu, 05 Februari 2014

Hati yang Kosong

“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an maka ia bagaikan rumah yang kosong.”
(HR. Tirmidzi)



Taukah kau bagaimana gambaran rumah kosong itu? Ya. Rasulullah mengajarkan kita menggunakan perumpamaan-perumpamaan agar lebih mudah dipahami. Dalam benak kita, tentu rumah kosong merupakan sesuatu tempat yang tak menyenangkan. Tak ada yang namanya kenyamanan, bahkan rumah kosong identik dengan suatu tempat yang menyeramkan. Begitulah kondisi hati yang tak ada sedikitpun Qur'an didalamnya.

Jumat, 13 Desember 2013

Refleksi Perjalanan, Suka Duka Kita Seirama



“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran”
(KH. Rahmat Abdullah)

            Menyatukan visi, menyatukan hati tentulah  sangat dibutuhkan dalam menjalankan peran sebagai BKK. Karena ketika ada egoisme yang mulai meninggi, maupun prasangka yang mulai menghitam, bahkan rasa peduli telah menipis, maka kembali mengingat apa tujuan kita bergerak akan kembali meredakannya. Begitulah seharusnya. Langkah kami diawali dengan sebuah jargon, yang menurut saya sangat dalam maknanya, “Suka duka kita seirama” Dimana sebagai sesama muslim ibarat satu tubuh, yang apabila satu anggota tubuhnya merasa sakit, maka begitu pula seharusnya.

            Pada awal perjalanan, kami melakukan sebuah perjalan untuk menuju sebuah tempat yang di benak kami begitu indah panoramanya. Dan di perjalanan inilah saya merasa bahwa perjalan ini seolah menjadi refleksi setahun kepengurusan 1434 H yang akan kami lalui. Kami berangkat dengan sebuah tujuan yang sama. Dengan komposisi tiga motor yang kami kendarai, kami berangkat. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, kami akhirnya mulai  melalui bukit yang begitu tinggi, berkelok-kelok, di bibir jalan ada tebing dan jurang yang menemani, dan kami tetap berjalan dengan semangat. Hingga ditengah perjalanan, hujan deras pun turun, kami segera mengenakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Namun di tengah perjalanan  salah satu motor yang dikendarai di antara kami terjatuh, dan saat itu segera semua motor menghentikan lajunya. Segera kami sigap membantu saudara kami yang terjatuh itu, dan kami beristirahat sejenak di sebuah mushola kecil sembari menanti hujan berhenti.

Jumat, 22 November 2013

Skenario-Nya

Sahabat Seperjuangan di SMA, tempat kumenemukan CAHAYA
          Aku rasa memang sejak awal bertemu, aku sudah jatuh cinta dengan kota ini, Jogjakarta. Sejak SMP aku banyak mendengar tentangmu, dan aku ingin sekali bisa melanjutkan pendidikanku di kota ini, Jogjakarta. Bahkan aku hanya memfokuskan diriku untuk masuk ke Universitas yang ada di Jogja, lebih tepatnya, Psikologi UGM. Aku masih ingat, hari itu aku menangis. Impian ku untuk masuk ke Psikologi UGM kandas sudah, restu mama tak kukantongi. “Sudahlah, pilih saja Biologi, Kehutanan, atau Perikanan” kata mama padaku yang tetap bersikeras ingin masuk ke Psikologi UGM.
“Kenapa harus IPA sih, Ma? Kalo psikologi IPA berarti di UNS kan? Dan aku maunya kuliah di Jogja, Ma”  sanggahku.Mungkin ini bukan sebuah kisah yang terjadi padaku saja. Atau mungkin kamu, yang sedang membaca tulisan ini. Namun, jangan berhenti disini. Mari kita lanjutkan ceritanya.
UGM, Universitas Harapan

Senin, 26 Agustus 2013

Apa Argumenmu di Hadapan Allah?

Sheikh Muath, seorang hafidz yang tuna netra.. Ini kisah beliau, semoga bisa diambil hikmahnya, dan semakin membuat kita bersemangat berinteraksi denga n Qur'an. Saat beliau hendak menyetorkan hafalannya kepada Sheikh-nya, ia harus menempuh perjalanan sekitar sepanjang 3 hari. Dengan menggunakan motor, sepanjang perjalanan Sang Ayah menuliskan ayat/surat yang hendak disetorkan anaknya, Muath agar dapat menyimak hafalan yang sedang di muroja'ah oleh anaknya. Dan perjalanan 3 hari itu hanya 1 ayat yang diterima Sheikh?

Sabtu, 24 Agustus 2013

Tetangga yang Baik

Pagi, dunia..
Hari sabtuku, usai sholat subuh berjamaah di Masjid akupun bergegas menuju asrama. Hari ini jatah kami muroja'ah surat Ar-Rahman dan An-Naba'. Seperti biasa, setiap sabtu ahad kami bersiap untuk menghadiri kelas tahsin bersama Ustadz Hartanto. Saat teman yang lain memilih mennyelesaikan urusannya, aku memilih untuk melaksanakan kewajibanku untuk piket. Hari ini aku kebagian menyapu halaman teras. Sambil asik muroja'ah, aku menyapu butir-butir debu juga dedaunan yang jatuh di halaman Rumah TahfidzQu.  Tetiba, ada suara seorang ibu berusia sekitar lima puluh tahun menyapaku, "Assalamu'alaykum" 
Sontak, aku menjawab, "Wa'alaykumussalam, Bu" sambil menyalami tangan sang ibu. 
"Maaf lahir batin ya mbak, lagi nyapu ya."  ujar sang ibu padaku.
"Oh iya,  Bu.. Sama-sama, maaf tangan saya kotor habis nyapu" jawabku sambil sedikit meringis karena salah tingkah. Dan sang ibu pun masuk ke rumahnya.

Jumat, 23 Agustus 2013

Perjuangan, mencintai Cahaya


  Al-Qur’an ibarat cahaya yang akan menerangi perjalan hidup seorang hamba. Sebagai petunjuk hidup, yang menuntun kita menuju keselamatan. Membaca Al-Qur’an memeiliki keutamaan-keutamaan. Yang salah satunya adalah ia dapat memberi syafaat kepada kita, dengan izin Allah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya. “ (HR. Muslim)