
Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.
"Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu." "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yang memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yg mendengarkan." Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, "Saya yang merayu." Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meremas." Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika ketahuan." "Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu, ucap malaikat.
Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi." "Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka
Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan." Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke syurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni syurga:
"Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk syurga karena pertolongan selembar bulu mata." (atas rahmat Allah) Sungguh Allah Maha Pemberi Karunia....
Selengkapnya...
Selasa, 10 November 2009
Selembar Bulu Mata
Dipuji??? Hati-hati....

Jangan Teripu dengan Pujian Orang Lain
Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.”[1]”
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka][2]
Faedah Ilmu, Panggang, Gunung Kidul, 23 Syawwal 1430 H
Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
catatan kaki:
[1] Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah
[2] Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah
Selengkapnya...
Minggu, 01 November 2009
Rindu kami padamu T_T

Bismillah...
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat
kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai
menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi
itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku,
kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati
dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan duahal pada kalian,sunnah dan Al Qur'an.
Barang
siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang
yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah
singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh
menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan
berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.
Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah
akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala
itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap
menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat
itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik
berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih
tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan
keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi
alas tidurnya.
Tiba-tiba
dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan
badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah
itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali
ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah
menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah
bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah,
dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan
pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah
pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas
langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak
senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku
pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi
siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata
Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit
sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah
terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu
Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah
yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang
tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja
semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah
mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku
- peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di
luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan,
berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini,
mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa
baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Selengkapnya...
VOTE for PALESTINE!

Assalamu 'alaikum
NB::BACA DULU SAMPAI SELESAI
Hingga kini polling suara masih memihak Israel. Dimana umat Islam dan Arab yang biasa mengakses internet??? Saat ini, polling menyalahkan Hamas dengan 83,34 % sedangkan yang menyalahkan Israel dengan bom fosfor putihnya cuma 16,26 %. Tolong ikuti polling ini....
Sebuah cannel televisi Italia melakukan polling bertajuk:
(DENGAN BAHASA ITALI, ini artinya)
Siapa yang melanggar HAM?
* Israel, dengan penggunaan fosfor putih
* Hamas, menggunakan manusia sebagai tameng hidup-hidup
* Dua-duanya
*Tidak ada
Mari ikuti polling tersebut untuk merubah posisi sekarang ini. Pendukung Israel mulai bergerak, apa yang sudah kita lakukan?
Bela yang benar dan pilih: Israel pelaku pengguna bom fosfor yang dilemparkan ke tempat-tempat penduduk.
http://www.sondaggi.rai.it/index.php?sid=39195
klik alamat di atas dan PILIH NOMOR (1) dan kirimkan ke semua orang yang Anda kenal...
note : yang ingin translasinya silahkan gunakan google translator....
(By: Ristekmen)
SETELAH VOTE DISINI,,, LALU BUAT YANG BARU, COPAS AJA,,, BIAR JADINYA JARKOM, MOHON DIPERBANYAK..JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN...HAMASAH,,, HARAPAN ITU MASIH ADA!! ^^
Selengkapnya...
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kehabisan duit buat sedekah?? :)

Siapa di antara kita yang tidak mau bersedekah setiap hari, tanpa harus mengeluarkan uang sedikitpun...??? :)
Cara untuk melakukan itu diajarkan oleh Rasulullah taktala beliau bersabda, "Senyumanmu di hadapan saudaramu itu sedekah." (HR Tirmidzi)
Subhanallah, betapa Indahnya Islam.. Hanya dengan tersenyum ikhlas yang kita sunggingkan di hadapan manusia, siapapun dia, akan berubag menjadi pahala sedekah bagi kita. Seperti yang telah kita ketahui bahwa sedekah sangat besar pahalanya, hingga amal ini adalah amal yang tak layak untuk diremehkan.Seseorang yang senantiasa menebar senyuman apalagi dibarengi dengan menebar salam pasti akan sukses dalam menggapai kebaikan yang berlimpah. Dan dengan perhitungan sederhana saja, misalnya setiap hari kita bertemu dengan seseorang setiap hari sepanjang hidupnya dan kita senantiasa tersenyum padanya, maka hasilnya adalah pahala sedekah yang melimpah ruah, Insya Allah..
Maka, jadikan rumus di atas sebagai pemompa semangat untuk senantiasa menebarkan senyum di sekitar anda. Tapi, jangan sampai kita melupakan kode etik pergaulan anatara ikhwan dan akhwat ya.. Selama itu tidak menimbulkan mudhorot(keburukan) maka, teruslah beramal! :)
Di samping itu, orang tersenyum juga memiliki wajah yang berseri-seri seperti yang dicontohkan Rasulullah. Jadi, dengan tersenyum kepada orang lain, kita telah (ittiba') mengikuti Rasul. Sedangak kita pasti sudah tau bahwa jika kita meneladani beliau, maka pahala yang besar akan kita raih. aamiin..
Maka, mulai sekarang, Tersenyumlah! :)
(terinspirasi dari buku The Magic Smile)
Selengkapnya...
Minggu, 04 Oktober 2009
Kaizen, Bushido, dan Al-Fatihah

Jika Jepang memiliki Kaizen (usaha perbaikan berkelanjutan untuk menjadi lebih baik dari kondisi sekarang). dan Bushido (kode etik kepahlawanan golongan samurai dalam sejarah Jepang. Nilai-nilai yang menjadi inti bushido adalah moralitas, kebajikan, keberanian, kejujuran) yang bisa membuat mereka seperti saat ini, maka kita telah diberikan 7ayat yang diulang-ulang, yaitu Al-Fatihah.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillahirabbil’aalam
Arrahmaanirraahiim, melatih kita brpikir ke dalam, sudahkah kita menjadi hamba yang pengasih dan penyayang.
Maalikiyaumiddiin, melatih kita untuk memiliki visi dalam kehidupan.
Iyyaakana’budu wa iyya kanasta’iin, melatih kita untuk hanya mengabdi dan minta pertolongan kepada Allah SWT.
Ihdinashsiraathal mustaqiim, melatih kita untuk senantiasa berada di jalan yang lurus.
Shiraathalladzina an ’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhoolliin, melatih kita memilih jalan yang baik yang penuh dengan kenikmatan bukan jalan yang sesat dan Allah murkai.
Subhanallah, sekarang mana yang lebih hebat ? Kaizen & Bushido atau Al-Qur’an ?
Bukankah Al-Fatihah lebih dahsyat? Yap, jadi harusnya lebih hebat mana bangsa kita dengan Jepang. Tentu seharusnya bangsa kita yang lebih hebat daripada Jepang kan? Ayo, SEMANGAT menjadi LEBIH BAIK!
Selengkapnya...
Kamis, 01 Oktober 2009
Menuju Puncak dengan Amal Andalan

Tak terasa bulan suci Ramadhan telah berganti dengan bulan syawal. Sebelumnya, saya ucapkan Minal aidin wal faidzin.. Mohon maaf ya apabila ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Biarpun Ramadhan telah usai, tapi semangat Ramadhan harus tetap terjaga yah! Amalan-amalan kita harus tetap ditingkatkan setiap saat. Jangan sampai ibadah kita seolah menjadi ibadah musiman yang hanya kita lakukan setahun sekali saat bulan Ramadhan.. Soalnya,"Sejelek-jeleknya orang adalah orang yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin sholat malam sepanjang tahun." Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya'ban saja..
Oh ya, bicara soal amal ibadah, Rasulullah SAW memiliki sahabat yang bernama Bilal bin Rabbah radhiyallahu'anhu. Bilal adalah seorang sahabat yang suara terompahnya(sandalnya) sudah terdengar di syurga, padahal ia masih hidup di dunia. Setelah ditanya apa yang menyebabkan hal itu, Bilal menjawab bahwa ia selalu menjaga wudhunya dan senantiasa menunaikan sholat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.
Subhanallah... itulah yang disebut sebagai amal andalan. Sebagai seorang hamba, sudah seharusnya kita memiliki amalan andalan yang mungkin dapat menjadikan kita masuk ke syurga. Kan syurga itu diperuntukkan bagi orang beriman yang beramal shaleh. Meskipun sesungguhnya seseorang bisa masuk syurga itu juga karena Rahmat Allah.
Tapi apa sih amal andalan itu? Amal andalan adalah amal yang paling sering kita lakukan secara kontinyu atau terus menerus sehingga seolah menjadi suatu kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi demi mencari Ridho Allah. Dan apabila kita tidak melaksanakan amal andalan itu, maka seolah ada yang terasa hilang atau kurang. Misalnya si A rajin melaksanakan sholat dhuha dan qiyamul lail, si B rajin melakukan puasa senin kamis, si C selalu menyisihkan sebagian uang sakunya untuk di sumbangkan ke anak yatim, si D rajin membaca Al-Qur'an setiap selesai sholat fardhu, dan sebagainya. Jadi saat iman kita mulai menurun, amalan-amalan itu dapat mengembalikan semangat kita dalam beribadah.
Nah, kira-kira apa amal andalan kita yah? Sholat, shodaqoh, baca Qur'an, puasa, atau malah belum punya yah? Gak papa kok, mulai sekarang, Yuk! Kita berusaha untuk memiliki amal andalan.. Tapi, sssssttt...! Jangan sampai Amal andalan kita dicerita-ceritakan, loh ya.. Bisa-bisa malah mendatangkan adzab Allah gara-gara riya' alias ingin mendapat pujian dari orang lain deh.. Naudzuillah. Kalau mau cari amal andalan nih, dimulai dari hal-hal yang kecil aja dulu. Karena kita tak tahu amalan mana yang dapat membawa kita masuk melalui pintu-pintu syurga. Mungkin saja amalan kecil itu yang dapat mengantarkan kita menuju puncak kenikmatan abadi. Wallahua'lam.
(vierhuzz_smada)
Selengkapnya...
Senin, 14 September 2009
Kisah Islamnya Bocah Amerika

Abu Al-Jauzaa' :, 19 Januari 2009
Kisah bocah ini adalah bahwa ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari semua agama. Setelah membaca dengan penuh teliti, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang muslim sebelum dia bertemu dengan seorang muslimpun.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi” (HR. Al-Bukhari no. 1296).
Kisah kita kali ini, tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nashrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari shalat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk menjadikan namanya yang baru adalah Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya, dan terjadilah dialog berikut :
Sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu : ”Apakah engkau seorang yang hafal A-Qur’an ?” (dia bertanya dalam bahasa ’Arab).
Wartawan itu berkata : ”Tidak”. Kemudian ia (wartawan tersebut) mengatakan : ”Dan aku merasakan kekecewaannya (anak itu) atas jawabaku ini”.
Dia berkata : ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujaniku dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”.
Wartawan tersebut menceritakan keadaannya, seraya berkata ; ”Aku sudah menduga dia menyebutkan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia shalat. Akan tetapi jawabannya tidak disangka-sangka, dia dengan tenang bercampur penyesalan mengatakan : ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat”.
Wartawan (selanjutnya disingkat W) : ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?”. Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Muhammad (selanjutnya disingkat M) : ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
W : ”Apakah engkau telah puasa Ramadlan ?”.
M – tersenyum – dan berkata : ”Ya, aku telah puasa Ramadlan yang lalu secara sempurna alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
W : ”Apakah cita-citamu ?”.
M – dengan cepat ia menjawab - : ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
W : ”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?”.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian dia meneruskan : ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar”.
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya : ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini”.
W : ”Apakah cita-citamu yang lain ?”.
M : “Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka”.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
M : ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina”.
W : ”Apakah negkau mempunyai cita-cita lain ?”.
M : “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Qur’an”.
W : “Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?”.
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”.
W : ”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”.
M : ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi”.
W : ”Apakah engkau shalat di sekolahan ?”.
M : ”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari”.
Datanglah waktu shalat maghrib, maka dia melihatku seraya berkata : ”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”.
Kemudian dia berdiri dan adzan pada waktu air mata mengalir di kedua mataku.
[selesai – ditulis kembali oleh Abul-Jauzaa’ dari Majalah Qiblati, edisi 07 tahun II – April 2007M/Rabi’ul-Awwal 1428 H].
Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/kisah-islamnya-bocah-amerika.html
Subhanallah, sungguh janji Alloh benar.. Rasulullah pun benar, dan terbukti kebenarannya bahwa beliau SAW pernah bersabda bahwa ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi” dan inilah salah satu bukti yang nyata... Inilah ISLAM agama yang BENAR, yang SESUAI dengan FITRAH manusia. "Rodhiitu billaahi robban wa bil Islaami diinan wa bimuhammadin nabiyan wa rasuulaan." Aku ridho Allah menjadi Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabu Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku. (aamiin)
Selengkapnya...
Rabu, 02 September 2009
Tag dari Saudara di Malaysia

Alhamdulillah ana di tag sama ukhty niesa dari Malaysia...
Ukh, malaysia n Indonesia lagi bersitegang ni..
Semoga itu tidak merenggangkan ukhuwah kita yah..

Ana Uhibbukifillah..
^_^
Ukhty, di Malaysia sedang dibicarakan masalah tentang Indonesia nggak yah? :))
di Indonesia bener2 lagi hot2nya membicarakan Malaysia...
Selengkapnya...















