Ads 468x60px

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini tlah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu

bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

kuatkanlah ikatannya
tegakkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya

terangilah dengan cahyaMu
yang tiada pernah padam
ya Robbi bimbinglah kami

rapatkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakkal padaMu

hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Jumat, 23 Agustus 2013

Perjuangan, mencintai Cahaya


  Al-Qur’an ibarat cahaya yang akan menerangi perjalan hidup seorang hamba. Sebagai petunjuk hidup, yang menuntun kita menuju keselamatan. Membaca Al-Qur’an memeiliki keutamaan-keutamaan. Yang salah satunya adalah ia dapat memberi syafaat kepada kita, dengan izin Allah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya. “ (HR. Muslim)

Yang kutahu, Al-Qur’an ibarat cahaya yang senantiasa menuntun dan memberikan petunjuk dalam hidupku. Saat ini, di usiaku yang menginjak angka dua puluh tahun ini betapa aku masih jauh dari kesempurnaan. Aku baru belajar mengenal tajwid di akhir tahun semester empat. Ya, bagiku tak apa, menemukan kenikmatan berinteraksi dengan Quran ibarat menemukan mutiara di dasar hati. Ia menjadikan hati tentram saat kita membacanya, mendengarkannya, maupun menghafalkannya. Al-Quran telah dijadikan mudah untuk dipelajari, begitu memang adanya. Maka yang aku lakukan saat ini adalah terus belajar, belajar untuk tak pernah lepas dari Al-Qur’an, belajar untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid harian, belajar untuk membaca Al-Qur’an sesuai dengan hak dan mustahak huruf, juga belajar untuk menghafalkan Al-Qur’an, menjaganya di dalam dada. Begitulah, aku seorang pembelajar yang terus memperbaiki diri hingga kelak ketika ajalku tiba, aku berharap dan sangat berharap dalam kondisi keimanan yang terbaik.

            Aku tahu dan sadar bahwa jasa kedua orang tuaku tak akan sanggup kutebus dengan seluruh materi yang kumiliki, maka aku mengazzamkan diriku untuk berusaha menjadi investasi akhirat bagi kedua orang tuaku. Ya, dalam sebuah hadits: "Siapa yang membaca Al-Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan jubah(kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya,'Mengapa kami dipakaikan jubah ini?' Dijawab, 'Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur'an.'" (HR Al-Hakim)

            Siapa yang tak tergiur dengan kemulian orang yang senantiasa menjaga interaksinya dengan Qur’an? Jelas sekali, betapa besar kemuliaan ahlul Qur’an. Maka, aku ingin terus belajar untuk mencintai Qur’an. Walau kutahu dan kusadari itu adalah sebuah konsekwensi besar. Dan sulit rasanya jika aku harus mempelajari Qur’an sendiri, maka aku ingin terus bersama dengan lingkungan para pecinta Qur’an, aku ingin terus berjama’ah bersama orang yang senantiasa menjaga interaksinya dengan Qur’an, aku ingin terus berada di halaqah-halaqah Qur’an. Karena kuyakin, berjama’ah jauh lebih baik daripada seorang diri.  Semoga aku bisa terus belajar untuk memperbaiki akhlaq ku, hingga bisa menjadi akhlaq penghafal Qur’an sebagai bentuk birrul walidain kepada kedua orang tuaku tuk menggapai ridho-Nya juga.  (aamiin)

***

Aku menitikkan air mata saat membaca kembali tulisan yang pernah kutulis pada tanggal dua puluh enam mei, 2013. Dan hari ini, aku telah berada di lingkungan yang pernah kuidamkan. Alhamdulillah, skenario-Nya mengantarkanku bertemu dengan para penghafal Qur'an yang begitu bersemangat untuk beriteraksi dengan Qur'an. "Lantas, apa yang sudah kau dapatkan selama satu bulan berada di sana?" tanyaku pada diri. Aku merenung kembali..

Ditempat yang baru ini, begitu banyak pelajaran yang dapat kuambil. Aktivitas yang begitu menyenangkan, walau kadang lelah pun menghampiri. Setoran hafalan yang dahulu masih jarang-jarang kulakukan, sekarang menjadi aktivitas rutin pagi-sore. Belajar tahsin yang dulu hanya sepekan dua kali dan itu pun tak jarang aku absen karena agenda lain yang kudahulukan, sekarang menjadi agenda wajib yang begitu menyenangkan bersama guru kami, Ustadz Hartanto, al hafidz setiap pekan. Sungguh, ini semua karena kasih sayang-Mu, Yaa Rabb..

Namun, memang setiap pilihan memiliki konsekwensi. Aku tak boleh terlena. Aku sadar, bahwa aku juga harus tetap tawazun dalam menyelesaikan amanah-amanhku. Bahwa ini merupakan sebuah pilihan, dan aku harus bertanggungjawab dengan pilihan yang telah kupilih. Kuyakin sungguh, Allah memberikan jauh lebih baik dari apa yang aku minta. Karena Dia memberikan apa yang memang benar-benar aku butuhkan. Selamat berjuang, Vira! Bismillahi tawakkaltu 'alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah.. 

Kurasa aku telah jatuh cinta, pada Cahaya.


2 komentar:

  1. Subhanallah :-) yg paling sy ingin salah1nya memberi mahkota pd orgtua smg sy bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. smoga bisa ya.. :) salam kenal.. ^_^

      Hapus